![]() |
|
|
|
![]() Nama : SUMARAH ADHYATMAN Lahir : Pekalongan, Jawa Tengah, 21 Mei 1929 Agama : Islam Pendidikan : - Eerste Europeesche Lagere School, Tegal (1941) - Taman Dewasa, Yogyakarta (1942) - SMP Negeri, Pekalongan (1946) - SMA, Pati/Jakarta (1949) - Jurusan Inggris Akademi Nasional, Jakarta (tingkat III, 1953 Karir : - Wakil Ketua/pendiri Himpunan Keramik Indonesia (1973- 1984) - Kurator Koleksi Keramik Adam Malik (1979 -- sekarang) Kegiatan Lain : - Sekretaris Women's International Club (WIC) (1965-1966) - Direktris PT Indonesian Planning Office (Indoplano) (1951- 1979) - Komisaris PT Transindo Sakti dan PT Havilindo Utama, Jakarta (1979 - sekarang) Karya : Karya tulis penting: - Tempayan Martavans, Himpunan Keramik Indonesia, Jakarta 1977 - Koleksi Keramik Adam Malik, Himpunan Keramik Indonesia, Jakarta, 1980 - Keramik Kuna yang Ditemukan di Indonesia, Himpunan Keramik Indonesia, Jakarta, 1981 - Koleksi Lukisan Ikon Adam Malik, Yayasan Derita Cita, 1982 Koleksi Lukisan Cina Adam Malik, Yayasan Derita Cita, 1983 Alamat Rumah : Jalan Hang Lekiu III no. 10, Jakarta Selatan Telp: 716702 Alamat Kantor : Jalan Bukit Hijau VII no. 22, Pondok Indah, Jakarta Selatan Telp: 760731 |
SUMARAH ADHYATMAN Bukan arkeolog atau antropolog, ''Saya otodidak, bukan akademisi,'' ujar Sumarah Adhyatman. Namun, dengan minat, cinta, dedikasi, dan kerja keras, ia berhasil menjadi keramolog (ahli keramik) terkemuka di Indonesia. Suatu waktu, Mara -- panggilan akrab Sumarah -- mengirimkan buku karangannya, TempayanwMartavans, kepada direktur Museum Guangdong RRC. Balasan pun datang disertai 30 lembar slide tempayan berikut pertanyaan, ''Apa yang Ibu tahu tentang tempayan-tempayan ini dan saat pembuatannya?'' ujar Nyonya Mara mengenang bunyi surat. Saat berkunjung ke Taiwan, 1978, ia juga diminta berceramah di Museum Taipei yang terkenal.Mara jebolan tingkat III Jurusan Inggris Akademi Nasional Jakarta. Walaupun ia bukan arkeolog, minat berikut penguasaan bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda, sangat menopang keberhasilannya sebagai ahli keramik. Kebetulan, suaminya, T.K. Adhyatman, adalah sekretaris pribadi Almarhum Adam Malik, bekas wakil presiden RI yang menaruh minat besar terhadap barang peninggalan kuno. Menyertai suaminya, yang acap mendampingi Adam Malik bepergian, memberikan kepadanya kesempatan mengunjungi berbagai museum di berbagai negeri: Amerika, Kanada, Meksiko, Eropa, dan Asia. Ia juga mengunjungi pelbagai daerah Indonesia dan berhasil menemukan sejumlah keramik kuno. Dengan bimbingan pengetahuan dari Abu Ridho Sumoatmojo, kurator Museum Nasional Jakarta, akhirnya Mara berhasil menjadi ahli keramik ternama. Kurator koleksi keramik Adam Malik ini mengemukakan bahwa dalam masa 80 tahun (1602w1682) ada sekitar 12 juta keramik yang diperdagangkan di Indonesia oleh kongsi dagang HindiawBelanda (VOC), yang berasal dari Cina, Vietnam, dan Muangthai. Ini tidak termasuk yang dimasukkan oleh pedagang Portugis, Muangthai, Spanyol, Cina, atau Indonesia sendiri. Melalui dengan Tempayan Martavans (1977), Mara menulis tiga buku tentang koleksi Adam Malik, dua di antaranya koleksi lukisan ikon dan lukisan Cina. Bukunya yang terkenal, Keramik Kuna yang Ditemukan di Indonesia, 456 halaman, yang juga terbit dalam bahasa Inggris telah mengalami cetak ulang. ''Buku saya diakui para arkeolog dunia,'' kata anak kelima dari 10 bersaudara bekas bupati Pati, Jawa Tengah, itu. Suaminya pun penggemar keramik. Di Himpunan Keramik Indonesia yang mereka dirikan bersama Adam Malik, keduanya terlibat. Adhyatman menjabat ketua dan Mara menjadi wakilnya. Keduanya hidup bahagia ditemani dua anak. |