![]() |
|
|
|
![]() Nama : Syamsir Siregar Lahir : Pematang Siantar, Sumatera Utara, 23 Oktober 1941 Agama : Islam Pendidikan : Akademi Militer Nasional, 1965 Karir : - Bertugas di lingkungan Kostrad, Yonif 305/Kostrad, Yonif 412/Kostrad - Komandan Brigif 9/Kostrad Jember - Kepala Staf Divisi Infanteri I/Kostrad - Pangdam II Sriwijaya, 1992-1994 - Kepala Badan Intelijen ABRI (1994-1996) - Kepala BIN, 2004-2009 Alamat Kantor : Jalan Raya Kalibata Timur, Jakarta Selatan |
Syamsir Siregar Setelah tiga puluh tahun ia merintis karir militer, namanya sempat tenggelam di tengah hiruk pikuk perubahan politik dan kekuasaan negeri ini. Kini bintang Syamsir tampak bersinar lagi. Pada 8 Desember 2004, ia diangkat menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN), 1965, ini banyak menghabiskan karir militernya di lingkungan Kostrad, antara lain adalah Yonif 305/Kostrad, Yonif 412/Kostrad, Komandan Brigif 9/Kostrad Jember, dan Kepala Staf Divisi Infanteri I/Kostrad. Semenjak itu, karirnya semakin menanjak. Jabatan militer penting pun segera menyusul kenaikan karirnya. Salah satu jabatan penting itu adalah Pangdam II Sriwijaya, 1992-1994. Kemudian, jabatan Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA) pun digenggamnya. Peristiwa 27 Juli 1996, berupa penyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro oleh massa pendukung Soerjadi yang berbuntut kerusuhan massal di Jakarta, menjadi batu sandungan bagi perjalanan karirnya. Ia menjadi bahan perbincangan media massa lantaran namanya dikait-kaitkan dengan tragedi itu. Menurut pengakuannya sendiri, dia dituduh telah mem-back up Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dituding terlibat aksi kerusuhan. Padahal, "Saya tahu ada petinggi ABRI yang tidak suka kepada saya dan melaporkan berita bohong itu kepada Soeharto," katanya kepada TEMPO pada 2000. Panglima ABRI waktu itu, Feisal Tanjung, memang pernah marah dan menegur Syamsir. Alasannya, ada satu perintah operasi yang tidak dilaporkan Syamsir kepada Feisal. "Saya menerima laporan dari Syamsir yang ditegur Pangab, karena tak melaporkan operasi yang dilakukannya," ungkap mantan Kasum ABRI, Letjen (Purn.) Soeyono suatu ketika. Akhirnya Syamsir dicopot jabatannya sebagai Kepala BIN dan ia memutuskan pensiun dari dinas militer yang telah dirintis selama 30 tahun lebih. Namun nasib orang tiada yang tahu. Tahun 2004 ini menjadi tahun keberuntungan dirinya. Tanda-tanda akan kembali berkiprahnya di pentas politik nasional telah tampak di awal tahun ini. Tergabung dalam Tim Kampanye Capres Susilo Bambang Yudhoyono, Syamsir dipercaya menjadi koordinator wilayah Sumatera. Dia juga habis-habisan membantu SBY untuk menangkis isu-isu miring yang mendera calon presiden dari Partai Demokrat itu. Soal ini, tentu saja ia sangat piawai mengingat pengalamannya di BIA. Sewaktu beredar nama-nama calon penghuni kabinet pada Juni 2004, nama Syamsir Siregar pun sudah tertera sebagai calon Kepala BIN. Ia menggantikan posisi Hendropriyono yang mengundurkan diri dari Kepala BIN semenjak SBY menjabat presiden. "Masalah NKRI sekarang ini adalah separatisme," ujarnya seusai pelantikan di Istana Negara, 8 Desember 2004. Syamsir juga memprioritaskan kerjanya pada penanganan terorisme, RUU Intelijen untuk mendapatkan payung hukum bagi kegiatan intelijen di Indonesia, dan pembenahan koordinasi di lingkungan institusi intelijen di Indonesia. (aris m - pdat/berbagai sumber) |